Arti Hidup Bahagia

Mungkin bila mendengar kata kebahagiaan, sebagian dari Anda akan berkata: “Saya sudah bahagia kok” dan sebagian dari Anda akan berkata “Waduh, kayaknya sulit banget untuk bisa meraih kebahagiaan ya. Capek saya…” Untuk sebagian orang, hidup bahagia memang menjadi hal yang seolah sulit diraih.

Mendefinisikan hidup bahagia sangatlah mudah untuk diungkapkan dengan kata-kata dan sangat mudah untuk disusun dalam bentuk kalimat. dlm kenyataan telah banyak orang yg tampil utk mendifinisikan sesuai dengan sisi pandang masing-masing akan tetapi mereka belum menemukan titik terang. Ahli ekonomi mendifinisikan sesuai dgn bidang dan tujuan ilmu perekonomian. Ahli kesenian mendifinisikan sesuai dgn ilmu kesenian. Ahli jiwa akan mendifinisikan sesuai dgn ilmu jiwa tersebut. Lalu arti hidup bahagia itu seperti apa menurut saya hidup bahagia adalah tentram yang Artinya : tidak ada apa-apa, tidak ada rasa iri, tidak ada rasa dendam, tidak ada rasa tersinggung dll.
Kalau ada orang lain mendapatkan keberuntungan, berhasil atau sukses dalam usahanya tidak ada sedikitpun rasa iri, rasa tersaingi, dll.
Kalau disalahkan, dihina, dicaci-maki tidak ada sedikitpun rasa berontak, tidak ada rasa sakit hati, tidak ada rasa dendam, dll.
Pada umumnya manusia belum bisa hidup bahagia karena walaupun sedikit masih ada rasa iri, masih ada rasa tersinggung, masih ada rasa ingin menonjol, masih banyak keinginan (bukan kebutuhan), sehingga belum tentram. Namun ada yang mengartikan Hidup bahagia kalau menjadi pejabat, gajinya besar, mendapat fasilitas, dihormati oleh banyak orang, dll.
Hidup bahagia kalau bisa berguna untuk banyak orang, banyak memberi baik materi maupun non materi, dekat dengan Tuhan, dll.

Percaya atau tidak, kebahagiaan ini sebenarnya sudah ada dalam genggaman Anda. Masalahnya apakah Anda menyadarinya? Apakah Anda dapat merasakan kehadirannya? Apakah Anda meyakininya? Pertanyaan-pertanyaan ini mesti Anda jawab terlebih dahulu untuk mendapatkan kebahagiaan. Berikut adalah langkah-langkah yang bisa anda terapkan untuk mencapai kebahagiaan.

1. Mensyukuri apa yang ada. Dalam hal materi, lihat ke bawah, jangan lihat ke atas. Mengapa? Karena dunia ini bersifat seperti air laut, semakin banyak diminum, semakin haus kita jadinya. Dengan mensyukuri yang ada – tubuh kita, keluarga kita, rumah kita – apa adanya, maka hal ini akan menambah rasa terima kasih kita kepada Tuhan yang Maha Pengasih.

2. Senantiasa berpikir bahwa Tuhan selalu memberi kita yang terbaik. Mengapa? Karena Tuhan yang Maha Berpengetahuan selalu lebih tahu apa yang terbaik untuk kita. Oleh karena itu, kita senantiasa berterima kasih atas apa yang telah diberikan saat ini. Namun meski demikian, tidak berarti kita tidak berjuang untuk kehidupan yang lebih baik.

3. Kita adalah makhluk yang tidak sempurna. Oleh karena itu dengan kita jujur terhadap diri kita sendiri, menerima diri apa adanya, akan lebih melapangkan dada kita dalam menerima kebahagiaan.

4. Ikhlas dalam berniat dan bekerja. Sebagaimana yang diketahui, bahwa kita adalah makhluk pengusaha, yaitu kita wajib berusaha namun hasilnya diserahkan kepada Yang Maha Berkehendak. Dengan demikian, kita tetap berusaha semaksimal mungkin, menggapai kebahagiaan seoptimal mungkin, namun kepasrahan kita kepada kehendakNya merupakan ending setiap ikhtiar kita.

5. Harta benda, anak, istri, serta kendaraan kita adalah titipan-Nya. Dengan mengerti filosofi “tukang parkir” maka kita akan lebih sadar bahwa semua yang diberikan kepada kita hanyalah lewat semata, bak seorang tukang parkir mobil yang menerima mobil dan motor untuk dititipkan sementara waktu saja. Dengan demikian, kita menyadari sepenuhnya bahwa semua yang kita miliki merupakan amanat untuk kebaikan umat manusia.

Dalam kategori: Definisi

RSSComments (0)

Trackback URL

Leave a Reply




If you want a picture to show with your comment, go get a Gravatar.